Friday, 24 July 2015

Para Ilmuwan Menemukan Bumi Lain


Para ilmuwan menemukan bumi lain selain bumi. Diperkirakan ada 40 miliar plaent seukuran Bumi mengorbit di galaksi, Bima Sakti. , persisnya di temukan di zona habiatasi bintang lain. Para peneliti ilmuwan di SETI Institut di Ames Research Center NASA di Moffett Field California mengatakan, penemuanya terhadap planet dengan karakteristik yang mirip dengan bumi.


Kepler Space Telescope NASA menemukan planet mirip Bumi yang mengorbit layaknya huni galaksi kita, Bima Sakti. Zona layak huni tersebut dikenal sebagai zona Goldilocks, berada di sekitar bintang, dimana planet-massa dengan tekanan atmosfer yang cukup mendukung air cair di permukaannya. 

Selain Kepler -186f sebutan dari bumi lain tersebut,dimana orbit bintangnya setiap 130hari, terdapat 4 planet lain yang mengorbit didekatnya. dan ini bisa di artikan bahwa jika dekatnya adalah bintang dengan memiliki setengah massa dan ukuran yang mirip dengan matahari, maka kemungkinan kehidupan di planet ini secara eksponel akan meningkat.

Cover

Wednesday, 22 July 2015

Tokoh Ulama Besar Indonesia Menjadi Imam Mesjidil Haram

Mengenang sejarah layaknya membuka lembaran lama yang berisikan jejak dan asal muasal sebuah nama, tokoh, lalu menjadi bentuk sebuah pelajaran, penghargaan dan kekaguman, terutama sejarah para ulama besar Islam Indonesia.  Jabatan sebagai imam dan khathib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh. Jabatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki keilmuan yang tinggi, terlebih lagi untuk menjadi Imam Mesjidil Haram. Saat ini Indonesia memiliki banyak ulama besar yang pernah menjadi Imam mesjid di Mesjidil Haram. Dua tokoh ulama besar saya ulas di artikel ini


1. Akhmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah
Ulama besar Indonesia kelahiran Sumatera Barat, Senin, 6 Dzulhijjah 1276 H ( 1860 M) ini sempat berguru dengan ulama terkemuka : Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Syekh Muhammmad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy. Bernama lengkap Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, dikenal sebagai Mufti Mazhab Sayfi'i pada abad ke-19-20 

Selain cerdas, dan menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, geometeri, matematika, beliau dikenal sangat peduli terhadap kecerdasan umat, karenanya menjadi guru para ulama Indonesia di sana. Oleh masyarakat Koto Gadang, Abdullah diberi gelar Khatib Nagari kerana sering di tunjuk sebagai imam dan khatib, dan gelar ini pula akhirnya melekat dibelakang nama beliau hingga berlanjut pada keturunannnya

Menjadi Imam Besar pertama non Arab di Masjidil Haram
Ahmad Khatib yang wafat di Mekkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M) ini, ada dua riwayat yang bertentangan mengenai pengangkatan beliau sebagai imam dan khatib di sana,  Oleh Umar Abdul Jabbar menceritakan bahwa Syaikhul Ahmad Khatib Rahimullah diangkat menjadi imam dan khatib berkat jasa sang mertua Shalih Al Kurdi atas permintaanya kepada Syarif'Aunur Rafiq. 

Pada riwayat kedua, Ustadz Hamka rahimahullah,  menyebutkan cerita " suatu ketika dalam sebuah shalat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah, mengetahui itu Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah pun, yang ketika itu juga menjadi makmum, dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Setelah usai shalat, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi. Lalu ditunjukkannya Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi, yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif ‘Aunur Rafiq mengangkat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.

2.Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani 
Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, beliau adalah ulama kedua orang Indonesia yang menjadi imam Masjidil Haram. Pria kelahiran Serang 1813 dan wafat di Mekkah 1897 merupakan seorang intelektual yang sangat produktif menulis +115 kitab meliputi bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir dan hadis.

Bernama lengkap Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi, keturunan ke-12 dari Sultan Banten bernasab pada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Dikampung Tanara kecamatan Tirtayasa tempat kelahiran beliau, terbiasa hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat, berkat didikan ayahnya seorang Ulama Banten ' Umar bin 'Arabi dan ibunya Zubaedah

Sebagai intelektual yang berkomitment tinggi terhadap prinsip keadilan dan kebenaran, gelora jihadnya sangat berkobar ketika menyaksikan masa kolonial Belanda bertindak sewenang-wenang menindas rakyat. Beliau yang menularkan semangat Nasionalisme dan Patriotisme pada rakyat Indonesia ini, sempat dilarang berkhutbah di mesjid-mesjid dan pernah dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda.

Sejak perlawanan Pangeran Diponegoro padam tahun 1830, Syaikh Nawawi terpaksa bermukim di Negri Mekah, memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Berkat kepiawaiannya dalam ilmu agama ( tauhid, fiqih, tafsir, tasawuf ), banyak para muridnya dari segala penjuru dunia berguru kepadanya. Nama beliau makin dikenal sejak ditunjuk sebagai pengganti Imam Masjidil Haram, Syaikh Khâtib al-Minagkabawi. Sejak itulah dia dikenal dengan nama resmi Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi.’ Artinya Nawawi dari Banten, Jawa

Semoga keteladanan beliau dan para ulama besar lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, melahirkan jiwa-jiwa baru untuk senantiasa kokoh dan berkomitment dalam kehidupan Islami. Ulama selayaknya menjadi panutan dijaman serba gelisah, bukan menjadi fitnah bagi rakyat yang sudah lelah. Dari Sejarah Kita Belajar Tentang Masa Lalu. Semoga Berkenan

Sunday, 12 July 2015

Niat Baik Tak Selamanya Direspon Dengan Baik

Nasehat menasehati menuju kebenaran harus tetap dipertahankan. Pada umumnya manusia tidak suka disalahkan dan ditegur meskipun memang dirinya berbuat salah. Niat untuk berbuat kebaikan tidak harus diterima dan direspon dengan baik, justru kadang mendapat cemooh dan dijauhi dalam pertemanan. 

Pada saat kita memberikan nasehat seringkali dianggap menggurui oleh orang lain, bukan tidak mungkin dijadikan musuh. Niat baik saja tidak cukup untuk menyentuh hati orang lain, meskipun sesungguhnya Allah sangat berbahagia melihat seorang hamba ikhlas saat diberi nasehat.

Sesuatu yang baik tentu akan berakhir dengan baik, namun bukan berarti niat baik akan selamanya mendapat tanggapan yang baik pula. Reaksi yang beragam dari niat baik bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan, ikhlas ketika niat baik tidak diterima, dan biarkan saja niat baik di salah artikan. Yang terpenting niat baik kita karena ikhlas, bukan untuk menjerumuskan orang lain ke dalam kemaksiatan. Toh, pada akhirnya, Allah jua yang akan membalas kebaikan kita.

Berterima kasihlah kita diberikan Allah orang-orang yang masih peduli dengan kita, niat baik seseorang saat memberikan nasehat meski kita tolak mentah-mentah,  bukankah itu salah satu cara Allah untuk menegur kita, hanya saja Allah menghadirkan seseorang sebagai perantaranya. Niat seseorang cukup Allah yang menilai dan kewajiban kita adalah berbaik sangka. Kembalikan saja semuanya pada Allah, sebab kita diperintahkan Allah tidak untuk menebak hati manusia, apalagi menempatkan vonis atas dasar dugaan. 

Ya Robbana, semoga Engkau bukakan pintu RahmatMu, agar orang-orang yang salah penilaiannya terhadapku, terbuka hatinya, dilapangkan hatinya, dimurahkan rejekinya, diluaskan ampunannya dariMu, dijauhkan dari bala dan masalah yang mereka tak sanggup menjalaninya. Ya Robb…hanya penilaianMu yang Hamba cari, semoga Engkau senantiasa meRidhoi setiap langkahku….Amin

Mutiara Bijak Dalam Gambar


Gambar kata bijak terbaru ini berisikan mutiara kehidupan. Mutiara bijak dalam gambar. Semoga Allah SWT senantiasa membukakan pintu hati kita untuk menerima setiap nasehat sekalipun itu kurang berkenan di hati kita





























Saturday, 11 July 2015

Berhemat Jelang Lebaran

Lebaran Idul Fitri menjadi salah satu moment silaturohim paling berharga bagi semua umat Islam. Kedatangannya selalu dinantikan dengan beragam sajian dan serba baru. Kenapa harus baru?. Setelah berpuasa penuh hampir sebulan, menahan hawa nafsu, umat Islam seperti kembali fitrah ( bagi mereka yang ikhlas berpuasa dan beramal ibadah ), tidak terkecuali puasanya bolong-bolong. Hampir secaara keseluruhan membeli yang serba baru, baju baru, mobil baru, dsb


Berhemat sebelum lebaran bukan perkara gampang. Biasanya disaat berbuka puasa ada saja menu khusus yang wajib di sajikan, belum lagi makanan ringan dan minuman, yang bisa jadi menggerogoti kantong setiap harinya. Menu makan minum tidak seperti hari biasanya ini (selain bulan Ramadhan), membuat sebagian orang lupa diri mengikuti hawa nafsu. Akhirnya setelah Ramdhan, kehabisan dana sebab sibuk bayar utang sana sini.

Puasa dan Lebaran memang sesuatu yang istimewa, dan ini bukan berarti mewajibkan kita mengikuti gaya hidup orang lain dengan membeli barang serba mahal, makan minum special, dan mempersiapkan kue kering dan kue basah lebaran sesempurna mungkin. Bukankah Allah mengajarkan kita untuk hidup sederhana, tanpa berlebih-lebihan mengikuti gengsi. Lagipula kita sendiri yang menikmati kesulitannya akibat tak bisa berhemat saat Ramadhan dan Lebaran.

Persiapkan secara matang dana khusus untuk moment istimewa ini. Mudik atau tidak, berusahalah masih ada uang banyak dikantong setelah lebaran. Jangan sampai, pulang mudik harus membebani orang tua dan keluarga. Puasa bukan memaksa kita untuk makan minum berlebih-lebihan, Lebaran tidak mengajari kita untuk bermewah-mewahan. Hikmah puasa dan lebaran agar kita senantiasa dalam keadaan hijrah.Bukan hijrah gonta ganti barang serba baru, namun Hijrah berubah sikap, perilaku, keimanan kearah yang lebih baik lagi. Bila hijrah hanya disaat puasa saja, akhirnya mesjid jadi sepi, iman berlari sana sini. Semoga Berkenan

Friday, 19 June 2015

Kebiasaan Peringatan Waktu Imsak

Waktu Imsak puasa di setiap daerah ditandai dengan kebiasaan berbeda-beda. Ada yang mengumandangkan bedug, kentongan, sirine sekitar 15 menit sebelum Azan subuh menjelang. Tujuannya tentu saja memberikan peringatan pada masyarakat agar menghentikan waktu sahurnya dan dimulainya waktu berpuasa.


Pada zaman Rasulullah, Imsak ditandai dengan selesainya membaca Al-Quran 50 ayat dengan lancar. Sedangkan di Indonesia Imsak dimulai sejak tahun 1960an, sejak K.H.Saefuddin Zuhri menjabat sebagai Menteri Agama, dimana pemakaian Imsak sempat menjadi perdebatan, ada yang menerima dan menolak.

Pengertian Imsak secara bahasa berarti menahan diri(untuk tidak makan dan minum). Sedangkan dalam syari’at Islam, waktu imsak itu sendiri adalah dengan terbitnya fajar (dikumandangkannya adzan shubuh). Kebiasaan masyarakat membatasi waktu imsak dengan berbagai peringatan, telah diperingatkan oleh Al-Hafidh Al-Asqalani Asy-Syafi'iy rahimahullah, dinilai termasuk bid'ah, kebiasaan yang kurang tepat tanpa berlandaskan dalil. 

Beliau mengatakan :
 :(تنبيه) : من البدع المنكرة ما أحدث في هذا الزمان من إيقاع الأذان الثاني قبل الفجر بنحو ثلث ساعة في رمضان واطفاء المصابيح التي جعلت علامة لتحريم الأكل والشرب على من يريد الصيام زعما ممن أحدثه أنه للاحتياط في العبادة ولا يعلم بذلك الا آحاد الناس وقد جرهم ذلك إلى أن صاروا لا يؤذنون الا بعد الغروب بدرجة لتمكين الوقت زعموا فاخروا الفطر وعجلوا السحور وخالفوا السنة فلذلك قل عنهم الخير وكثير فيهم الشر والله المستعان“
(Peringatan) :Termasuk bid’ah yang munkar adalah apa yang terjadi di jaman ini (yaitu jamannya Ibnu Hajar) yakni adanya pengumandangan adzan kedua sekitar 1/3 jam  20 menit) sebelum waktu subuh bulan Ramadlan.

Kebiasaan tersebut merupakan versi jaman Ibnu Hajar dengan pengumandangan adzan 20 menit sebelum fajar lalu mematikan lampu sebagai tanda berhentinya makan dan minum. Sikap hati-hati dalam kebiasaan memberi peringatan, menyebabkan mereka sering mengakhirkan waktu berbuka puasa dan mempercepat waktu sahur yang menyalahi sunah. Selain itu tidak ada contoh dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat. (Ust. Abul Jauzaa hafidzahullah)

Monday, 8 June 2015

Allhamdulillah ala kulli hal

Ramadhan mendekati hari. Tidak terasa waktu semakin menua usiapun mulai tak lagi muda, mungkin juga masuk usia senja. Bersyukur kita di ijinkan Allah bertemu kembali di bulan sucinya. Renungan dan intropeksi diri di bulan sebelumnya, ditahun yang berlalu dan kita lupa, tentu memberikan semangat baru untuk sebuah kehidupan yang lebih baik dan bermakna.


Allhamdulillah ala kulli hal. Terima kasih dan bersyukur atas segala keadaan, terutama untuk peristiwa-peristiwa yang kurang menarik, kejadian yang sempat tidak membuat nyaman dan tenang. Begitulah cara Allah mendidik dan mengembalikan kita ke jalanNYA, hampir selalu di awali dengan sentilan dan teguran, entah itu melalui orang lain, teman, sahabat, keluarga. Semuanya mengandung hikmah dan hidayah.

Berpikir dan membangkitkan semangat untuk menghadapi kesulitan yang terjadi, keikhlasan menerima masalah sebagai taqdir terbaikNya, menjadi solusi terbaik daripada berkeluh kesah dan mencari-cari alasan. Allah memerintahkan kita untuk tidak berputus asa, namun meminta kita untuk bersabar dalam kebaikan. Mendekatlah kepada Allah, mungkin diri kita sudah terlalu jauh dari-Nya.. Dia menghadirkan masalah untuk kita kembali mendekat kepada Allah. Allah tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya, sesungguhnya kitalah (manusia) yang butuh dengan Allah..

Hidup hanyalah sebuah perjalanan, berhenti sesaat disatu tempat lalu kemudian meninggalkan. Hidup bukanlah sekedar basa-basi, yang sekedar tersenyum kepada orang yang tidak kita sukai, yang membenci suatu yang bermanfaat untuk dirinya, yang mencintai suatu yang membahayakan dirinya, yang tergila-gila dengan sesuatu yang menghancurkan dirinya. Meski hidup ini nisbi dan tidak selamanya, bukan berarti kita sibuk bermanipulasi keadaan, cinta dan kasih sayang, harta dan kedudukan. 

Bersihkan hati lalu mencoba luruskan niat. Maafkan segala sesuatu yang membuat kita tidak tenang. Semoga hati kita senantiasa mampu menangkap hidaya Allah di setiap harinya. Hidup barokah bukan hanya sehat, kondisi sakit kadang justru menambah taat kepada Allah. Dan barokah bukan sekedar cukup saja, tetapi barokah dimana saat ketaatan kita kepada Allah dalam segala keadaan yang ada, baik saat berlimpah ataupun sebaliknya, semoga kita senantiasa terjaga.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:
النفوس لا تترك شيئا إلا بشيئ، ولا ينبغي لأحد أن يترك خيرا إلّا إلى مثله أو إلى خير منه
"Jiwa manusia tidak bisa meninggalkan sesuatu kecuali mengganti sesuatu tersebut dengan sesuatu yang lain. Maka hendaknya seseorang tidak meninggalkan sebuah kebaikan kecuali dia berpindah kepada kebaikan lain yang semisalnya, atau kepada kebaikan lain yang lebih utama."

Allhamdulillah ala kulli hal - semoga kita semua dalam kebaikan Allah. Amiin