Tuesday, 10 March 2015

Air Terjun Spektakuler "Bigar Waterfall " Romania

Bigar waterfall atau disebut juga Bigar Cascade, merupakan salah satu air terjun spektakuler dan terindah di dunia atas keunikannya dimana pada musim gugur akan tampak bercahaya sesuai waktu dan cuaca. Bigar waterfall terletak dikawasan hutan lindung di pegunungan Anina di daerah Caras-Severin barat daya Rumania

Keindahan air terjun ini menyerupai bentuk payung terbuka dengan ratusan air berjalan melalui batu berlumut. Kawasan cagar alam ini di suguhi beberapa atraksi seperti mata air, sungai, tebing, lembah, gua, dan beberapa air tejun lainnya. Sebuah pemandangan yang menarik dan unik. Sedangkan dari jenis binatang terdapat beruang coklat, lynxes,serigala,rubah, burung, reptil, ikan. Sebuah kawasan hutan lindung yang layak di jadikan contoh untuk daerah lain di Indonesia.

Tampilan detail dari Google Maps









sumber :http://discoverytumundo.blogspot.com/2014/05/una-espectacular-cascada-de-agua.html

Sudah Tawadhu'kah Aku?

Sejenak kita bertanya " Sudah Tawadhu'-kah Aku?". Tawadhu'  berkaitan erat dengan kesederhanaan. Sifat Tawadhu' semakin menjadi barang langka yang di miliki manusia saat ini. Kepribadian yang rendah hati namun tidak merendahkan diri ini, hanya di miliki oleh orang-orang tertentu, dimana tingkat keihklasan dan keimanannya selalu bertumpu pada Allah semata.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam :
وما تواضع أحد لله إلّا رفعه الله عزّوجلّ " Tidaklah seorang bertawadhu’ yang ditunjukkan semata-mata karena Allah, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat (derajat)nya." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam Shahih nya no 2588]

Arti Tawadhu'
Tawadhu’ (التّواضع) secara bahasa adalah التّذلّل “Ketundukan” dan التّخاشع “Rendah Hati”. Asal katanya adalah Tawadha’atil Ardhu’ yakni Tanah itu lebih rendah daripada tanah sekelilingnya.
Tawadhu’ secara istilah adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran, serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakan nya, baik dalam keadaan ridha maupun marah.

Jenis Tawadhu’
- Tawadhu’ yang terpuji, sikap merendahkan diri kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena atau memandang remeh terhadap sesama.
- Tawadhu’ yang tercela, sikap merendahkan diri dihadapan orang kaya dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya.

Tingkatan Tawadhu’
- Tawadhu’ dalam Agama
Tawadhu’ dalam agama yaitu tunduk kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan patuh terhadap nya.
- Tawadhu’ kepada sesama Makhluk
Tawadhu’ kepada sesama Makhluk terdapat tiga makna :
1. Ridha untuk menjadikan seseorang dari kaum Muslimin sebagai saudaramu, karena Allah telah ridha kepadanya untuk menjadi hamba-Nya.
2. Tidak menolak kebenaran, walaupun kebenaran itu datang dari musuh mu.
3. Menerima maaf dari orang yang meminta maaf.

Manfaat dan Keutamaan Sifat Tawadhu
- Tawadhu’ dapat mengangkat derajat seorang hamba.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah Allah menambah kepada seseorang hamba sifat pemaaf, kecuali dia akan mendapatkan kemuliaan, serta tidaklah seorang menerapkan sifat tawadhu’ karena Allah kecuali Allah pasti mengangkat derajatnya." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya XVI/141, Imam Ad-Darimi dalam Sunan nya 1/369, Imam Ahmad dalam Musnad 2/386 dan selain nya]

- Tawadhu’ dapat mengangkat derajat dan pangkat seorang hamba
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah dari setiap keturunan Adam, melainkan dikepalanya terdapat hakamah ditangan seorang Malaikat. Apabila ia tawadhu’, dikatakan kepada Malaikat tersebut : "Angkatlah hakamahnya", sedangkan apabila ia sombong, dikatakan kepada Malaikat tersebut : "Letakkan hakamahnya." [Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no 538]
{ Hakamah adalah besi kekang yang berada dihidung kuda, tali kekang tersebut dapat mencegah kuda dari melawan perintah penunggangnya.}

- Tawadhu’ itu menghasilkan keselamatan, mendatangkan persahabatan, menghapuskan dendam, dan menghilangkan pertentangan. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’, sehingga seseorang tidak merasa bangga lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya kepada orang lain." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya]

Kepribadian Tawadhu'
-Tunduk dan patuh kepada Kebenaran. 
- Seorang merendahkan diri kepada Allah tatkala mengingat dosa-dosa yang telah ia perbuat sehingga ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling sedikit ketaatan nya (amalanya) dan paling banyak dosanya (dimana hal ini akan mendorongnya untuk bertaubat).
-  Rendah hati dan lemah lembut kepada sesama
- Menghormati orang lain dan menghargai kedudukan nya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya]

- Tawadhu’ dalam Berpakaian dan Penampilan
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam :
من ترك اللّباس تواضعا لله وهو يقدر عليه , دعاه الله يوم القيامة على رءس الخلائق , حتّى يخيّر من أيّ حلل الإيمان شاء يلبسها
"Barangsiapa yang menanggalkan pakaian mewah karena tawadhu’ kepada Allah, padahal ia dapat (mampu) membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadap sekalian manusia, kemudian menyuruhnya memilih sendiri pakaian iman mana pun yang ia kehendaki untuk dikenakan." [Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan nya no 2481, Imam Ahmad didalam Musnad nya 3/439 dan Imam al-Hakim dalam Al-Mustadraknya IV/183. Lihat juga Silsilatul Ahaadits Ash-Shahihah no 718]

- Tidak  mengaku-ngaku dirinya sebagai orang yang berilmu dan tidak  membanggakan diri atas apa yang dimilikinya, kecuali dalam keadaan yang terpaksa atau darurat karena dia membicarakan nya sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada nya. Bukan untuk membanggaan diri dihadapan manusia.

- Sederhana dalam berjalan yakni berjalan dengan ringan, tenang, tidak memberatkan diri didalam langkahnya, tidak dibuat-buat dan tidak terkandung didalam nya kesombongan, tidak pula memalingkan pipi, tidak juga terlalu lepas kendali. Bukan berjalan seperti orang yang tidak berdaya, lemah langkahnya dan menundukkan kepala

Bertafakur  atas asal muasal penciptaanya diri, dan menyadari batas kemampuan diri, menjadikan seseorang mampu mencapai kepribadian Tawadhu'. Kesederhanaan dalam berbicara dan bersikap tidak akan membuat diri hina di mata manusia. Sesuatu bila dilakukan berlebih-lebihan, tentu saja akan menjadi penyakit dan memberatkan individu itu sendiri, bukankah kita akan ikut latah bicara bila melihat sikap seseorang yang terlalu berlebih-lebihan. Mari kita mulai belajar bersikap Tawadhu'

(Diringkas dari kitab At-Tawadhu’ fi Dhauil Kitab was Sunnah, Syaikh Salim bin Ied al-Hilali. Diterjemahkan dengan judul “Hakikat Tawadhu’ dan Sombong Menurut al-Quran dan as-Sunnah” cet Pustaka Imam Syafi’i )-  edit from catatdiva

Friday, 6 March 2015

Tentang Penyesalan

Penyesalan selalu datang terlambat. Sesal dan salah selalu datang beriringan diakhir perbuatan, di ujung perjalanan. Tak pernah kita dengar penyesalan datang di awal. Penyesalan adalah sesuatu yang setiap orang akan mengalaminya, pada satu titik tertentu atau lainnya. Menjadi mustahil menjalani hidup tanpa pernah mengalami penyesalan sama sekali.


Mungkin saya dan anda tak mampu menghitung dengan jari, sudah berapa kalikah kita melakukan kesalahan, kegagalan yang berujung sesal? Akan lebih riskan lagi apabila kita tidak pernah belajar darinya lalu membiarkan diri menjadi korban dari penyesalan. Pernah berbuat salah itu manusiawi. Gagal itu terjadi karena kita memiliki kekurangan yang tidak kita sadari. Hanya saja kita kadang menempatkan diri dalam posisi penyesalan yang tak mungkin di perbaiki. Sedangkan kata orang bijak " Setiap hari baru adalah kesempatan untuk mengubah hidup Anda." ~ Unknown" 

Adalah benar bahwa kekuasaan itu milik Allah, akan tetapi kita diberi-Nya sedikit kekuatan untuk memperbaiki kesalahan, meminimalisir datangnya penyesalan melalui akal dan kasih sayangNya. Setiap keberhasilan yang di temui bukanlah semata kebetulan dan kegagalan yang kita temukan adalah bukan sekedar diluar kendali kita. Tidak ada yang memiliki perintah atas hidup kita melebihi dari yang kita lakukan. Perlu disadari bahwa kita memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu terjadi dalam hidup kita. Setelah kita membuat perubahan pola pikir ini, segala sesuatu yang lain menjadi lebih mudah.

Dalam sebuah hadist di sebutkan "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."(QS. Az-Zumar: 10). Dan para ulama Islam memberikan nasehat bijaknya "Janganlah Bersedih, Kesedihan kan melemahkan hati, melemahkan tekad dan keinginan. Tidak ada sesuatu yang lebih disenangi syaitan selain kesedihan seorang mukmin" – Ibnul Qoyyim. "Kebahagiaan ada di tangan Allah dan tidaklah memperoleh kebahagiaan itu kecuali dengan ketaatan pada-Nya" ~Syaikh Abdurrazzaq Al Badr~

Bersyukurlah kita, Allah tak menghentikan nikmat-Nya meski kita banyak maksiat, banyak meninggalkan perintahNya, meski kita kurang bersyukur. Kegagalan menjadikan kita melihat kekurangan itu dan kesalahan akan menjadi sejarah masa lalu yang tak berarti, apabila kita mau belajar dan memperbaikinya. Kesalahan akan menjadi aib apabila kita terus melakukannya. Lepaskanlah diri untuk berandai-andai " andai saja, kalau saja" Sesal mungkin tak berguna, sesal tak mungkin bisa mengulangi sesuatu yang sudah terjadi. Sesal akan berubah indah pada waktunya bila kita mau belajar darinya. " Laa tahzan innalllaha ma'ana ", Janganlah bersedih, Allah senantiasa bersama kita.

Note : terima kasih atas searching yang masuk di sumber lalu lintas blog, menjadi sumber inspirasi terbitnya artikel ini 

Thursday, 5 March 2015

Pahala Mendoakan Orang Lain

Beragam amal dan pahala bisa kita raih salah satunya melalui  doa. Doa menjadi suatu bentuk kepasrahan seorang hamba pada Rabbnya , meminta pertolongan dari segala kelemahan. Doa bisa menjadi sumber kekuatan dan kebaikan bagi sesama muslim dalam menjalin silaturohim. Allah dan Rasul-Nya memotifasi kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan saudaranya, dan mengutus malaikat yang khusus bertugas untuk meng’amin’kan setiap doa seorang muslim untuk saudaranya dan sebagai balasannya malaikat itupun diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan orang yang berdoa tersebut. 


 Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.

Doa malaikat adalah mustajabah, dan  mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuannya termasuk dari doa-doa mustajabah. Karenanya jika dia mendoakan untuk saudaranya -dan tentu saja doa yang sama akan kembali kepadanya- maka potensi dikabulkannya akan lebih besar dibandingkan dia mendoakan untuk dirinya sendiri. Hanya saja satu batasan yang disebutkan dalam hadits -agar malaikat meng’amin’kan- adalah saudara kita itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. 

Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak meng’amin’kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya. Hanya saja kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

-al-atsariyyah-

Saturday, 28 February 2015

Pemahaman Hadist Panjang Umur dalam Silaturohim

Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الْكِرْمَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ، قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Ya’quub Al-Kirmaaniy[1] : Telah menceritakan kepada kami Hassaan[2] : Telah menceritakan kepada kami Yuunus[3] :
Telah berkata Muhammad – ia adalah Az-Zuhriy[4] - , dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067].
Sanad ini hasan, namun shahih dengan keseluruhan jalannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan 2/181-182 no. 439 dengan sanad hasan, dengan lafadh :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahim”.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْزَمٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا: " إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush-Shamad bin ‘Abdil-Waarits[5] : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihzam[6], dari ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim[7] : Telah menceritakan kepada kami Al-Qaasim[8], dari ‘Aaisyah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya : “Barangsiapa yang diberikan bagian dari kelemah-lembutan, sungguh ia telah diberikan bagian kebaikan dari dunia dan akhirat. Menyambung silaturahim, akhlaq yang baik, dan bertetangga yang baik akan memakmurkan negeri-negeri dan menambah umur-umur” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 6/159].

Sanadnya shahih.
Sebagian orang mendapatkan kesulitan memahami hadits di atas dengan keberadaan dalil yang menafikkan pertambahan umur manusia sebagaimana dibawakan di bawah :
Allah ta’ala berfirman :
وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلا فِي كِتَابٍ
“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfudh)” [QS. Faathir : 11].
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

وقوله: { وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلا فِي كِتَابٍ } أي: ما يعطى بعض النطف من العمر الطويل يعلمه، وهو عنده في الكتاب الأول، { وَلا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ } الضمير عائد على الجنس، لا على العين؛ لأن العين الطويل للعمر في الكتاب وفي علم الله لا ينقص من عمره، وإنما عاد الضمير على الجنس.
قال ابن جرير: وهذا كقولهم: "عندي ثوب ونصفه" أي: ونصف آخر.
“Dan firman-Nya : ‘Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfudh)’; yaitu : apa yang telah diberikan kepada sebagian nuthfah berupa umur panjang, Allah mengetahuinya dan hal itu di sisi-Nya terdapat dalam catatan yang pertama.

Tentang firman-Nya : ‘dan tidak pula dikurangi umurnya’; kata ganti/dlamiir dalam ayat tersebut kembali kepada jenisnya (yaitu umur secara umum), bukan kembali pada umur orang tertentu. Hal itu dikarenakan panjangnya umur dalam Kitaab dan dalam ilmu Allah tidaklah berkurang dari umurnya. Kata ganti itu hanyalah kembali pada jenisnya. Ibnu Jariir berkata : ‘Ini seperti perkataan mereka : Aku punya baju dan setengahnya. Yaitu, setengah bau yang lain” [Tafsiir Ibni Katsiir, 6/538].
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ رُسْتُمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ " فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلا فِي كِتَابٍ ، قَالَ: فِي أَوَّلِ الصَّحِيفَةِ مَكْتُوبٌ عُمْرُهُ، ثُمَّ يُكْتَبُ بَعْدَ ذَلِكَ ذَهَبَ يَوْمٌ، ذَهَبَ يَوْمَانِ حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى أَجَلِهِ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Rustum[9] : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar[10] : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush-Shamad[11] : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah[12], dari ‘Athaa’ bin As-Saaib[13], dari Sa’iid bin Jubair[14] radliyallaahu ‘anhu tentang firman-Nya ‘azza wa jalla : ‘Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfudh)’; ia berkata : “Dalam lembaran awal tertulis (panjang) umurnya. Kemudian ditulis setelah itu hilang sehari, hilang dua hari, hingga datang kematiannya” [Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh dalam Al-‘Adhamah 3/918-919 no. 452].
Sanadnya shahih.
Hammaad bin Salamah mendengar riwayat ‘Athaa’ sebelum berubah hapalannya [Al-Mukhtalithiin hal. 82-84 no. 73 – beserta catatan kaki muhaqqiq-nya]. Muslim berhujjah dengan riwayat ‘Abdush-Shamad dari Hammaad dalam Shahiih-nya.
Allah ta’ala juga berfirman :
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” [QS. Aali ‘Imraan : 145].
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
وقوله: { وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا } أي: لا يموت أحد إلا بقدر الله، وحتى يستوفي المدةَ التي ضربها الله له؛ ولهذا قال: {كِتَابًا مُؤَجَّلا } كقوله { وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلا فِي كِتَابٍ } [فاطر:11] وكقوله { هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ } [الأنعام:2].

وهذه الآية فيها تشجيع للجُبَناء وترغيب لهم في القتال، فإن الإقدام والإحجام لا يَنْقُص من العمر ولا يزيد فيه كما قال ابن أبي حاتم:
حدثنا العباس بن يزيد العبدي قال: سمعت أبا معاوية، عن الأعمش، عن حبيب بن صُهبان، قال: قال رجل من المسلمين -وهو حُجْرُ بن عَدِيّ-: ما يمنعكم أن تعبُروا إلى هؤلاء العدو، هذه النطفة؟ -يعني دِجْلَة-{ وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا } ثم أقحم فرسه دجلة فلما أقحم أقحم الناس فلما رآهم العدوّ قالوا: ديوان، فهربوا

Dan firman-Nya : ‘Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah’; yaitu : seseorang tidak akan mati kecuali dengan ketentuan/takdir Allah, dan hingga ia memenuhi waktu yang telah Allah tentukan baginya. Oleh karena itu Allah berfirman : ‘sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya’, seperti firman-Nya : ‘Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfudh)’ (QS. Faathir : 11). Dan juga seperti firman-Nya : ‘Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya)’ (QS. Al-An’aam : 2).

Ayat ini terdapat dorongan semangat (keberanian) bagi para penakut dan pemberian motivasi bagi mereka untuk berperang, karena maju atau mundurnya dari berperang tidaklah mengurangi atau menambah umur, sebagaimana dikatakan Ibnu Abi Haatim : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Yaziid Al-‘Abdiy[15], ia berkata : Aku mendengar Abu Mu’aawiyyah[16], dari Al-A’masy[17], dari Habiib bin Shuhbaan[18], ia berkata : Ada seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin – ia adalah Hujr bin ‘Adiy - : “Apa yang menghalangimu menyeberangi sungai Tigris ini menuju musuh-musuh itu ?. ‘Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”. Setelah itu, ia memacu kudanya menyeberangi sungai Tigris, dan kemudian orang-orang pun mengikutinya. Ketika mereka melihat musuh, mereka berkata : “Diiwaan (lembar catatan)”. Mereka (musuh) pun lari ke belakang[19] [Tafsir Ibni Katsiir, 2/129-130].
Allah ta’ala berfirman :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudh)” [QS. Al-An’aam : 59].
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal" [QS. At-Taubah : 51].
حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ............"
Telah menceritakan kepadaku Abuth-Thaahir Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdillah bin Sarh[20] : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb[21] : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Haani’ Al-Khaulaaniy[22], dari Abu ‘Abdirrahmaan Al-Hubuliy[23], dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Aash, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah telah menulis seluruh takdir makhluk limapuluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi.......” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].

Oleh karena itu, sebagian ulama menafsirkan pertambahan (ziyaadah) umur dalam hadits di awal adalah pertambahan keberkahannya, sehingga usianya penuh dengan amal-amal yang besar.
Namun sebagian ulama lain tetap menafsirkan pertambahan umur itu adalah pertambahan hakiki, dengan penjelasan sebagai berikut :

Sesungguhnya takdir itu ada dua macam. Pertama, taqdir mutlak, yaitu takdir yang tertulis dalam Lauh Mahfudh. Takdir inilah yang dimaksud dalam nash-nash di atas. Kedua, takdirmu’allaq atau muqayyad, yaitu takdir yang tertulis dalam lembaran malaikat yang masih mungkin untuk dihapuskan atau ditetapkan.
Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata :
والأجل أجلان: مطلق يعلمه الله، وأجل مقيد، وبهذا يتبين معنى قوله : من سره أن يبسط له في رزقه، وينسأ له في أثره فليصل رحمه. فإن الله أمر الملك أن يكتب له أجلا، وقال: إن وصل رحمه زدته كذا وكذا، والملك لا يعلم أيزداد أم لا، لكن الله يعلم ما يستقر عليه الأمر، فإذا جاء الأجل لا يتقدم ولا يتأخر
“Ajal itu ada dua macam, yaitu ajal mutlak yang hanya diketahui oleh Allah, dan ajalmuqayyad. Dengan demikian menjadi jelas makna sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim.

Sesungguhnya Allah memerintahkan malaikat untuk menuliskan baginya ajal[24], dan berfirman : ‘Apabila ia menyambung silaturahim akan bertambah sekian dan sekian’. Dan malaikat sendiri tidak mengetahui apakah bertambah ataukah tidak.  Akan tetapi Allah mengetahui apa-apa yang telah Ia tetapkan pada orang tersebut. Apabila datang ajal padanya, maka tidak dapat dimajukan ataupun dimundurkan” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 8/517].
Di kesempatan lain ketika menjelaskan tentang rizki, Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata :
الرزق نوعان: أحدهما: ما علمه الله أن يرزقه، فبهذا لا يتغير، والثاني: ما كتبه، وأعلم به الملائكة فهذا يزيد وينقص بحسب الأسباب
“Rizki ada dua macam. Pertama, rizki yang hanya diketahui oleh Allah, ini tidak berubah. Kedua, rizki yang Allah tulis dan Ia beritahukan kepada malaikat. Rizki jenis ini dapat bertambah dan dapat berkurang tergantung sebabnya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 8/540].
الأسباب التي يحصل بها الرزق هي من جملة ما قدره الله وكتبه؛ فإن كان قد تقدم بأن يرزق العبد بسعيه واكتسابه ألهمه السعي والاكتساب، وذلك الذي قدره له بالاكتساب لا يحصل بدون الاكتساب، وما قدره له بغير اكتساب- كموت مورثه- يأتيه بغير اكتساب
“Sebab-sebab yang menghasilkan rizki sendiri termasuk apa-apa yang telah Allah tentukan dan tulis. Seandainya sejak semula Allah menentukan memberikan rizki kepada seorang hamba dengan usaha dan kerja yang dilakukannya, maka Allah akan mengilhamkan kepadanya untuk berusaha dan bekerja. Dan rizki itulah yang Allah tentukan baginya melalui perantaraan usaha dan bekerja; dan ia tidak bisa mendapatkannya tanpa melalui bekerja. Dan rizki yang telah Allah tentukan baginya tanpa melalui bekerja – misalnya dengan kematian ahli warisnya - , maka rizki itu datang kepadanya tanpa bekerja” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 8/540-541].

Dengan penjelasan Syaikhul-Islaam rahimahullah menjadi jelaslah perkaranya. Yaitu, umur memang bisa bertambah dengan sebab-sebab yang dijelaskan oleh nash (misalnya : menyambung silaturahim, doa, dan yang lainnya). Yaitu bertambah dengan menghapus ketentuan/takdir yang ada dalam catatan malaikat. Namun pertambahan berikut sebab yang dilakukan oleh hamba itu sendiri merupakan bagian dari takdir mutlak yang telah Allah tulis dalam Lauh Mahfudh limapuluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.
Wallaahu a’lam.
Semoga yang singkat ini ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor. Di antaranya mengambil faedah dari kitab Qathii’ur-rahim oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Ibraahim Al-Hamd, yang dipublikasikan oleh islamhouse.com].

Tuesday, 24 February 2015

Gengsi Itu Bikin Rumit



GENGSI. Satu kata yang banyak merugikan banyak orang. Demi Gengsi Broo, orang rela berhutang demi memenuhi kebutuhan gaya hidup semata tidak mau di katakan " katrok bin norak alias ndeso". Bukan tidak mungkin saya sendiri atau anda semua pernah mengalaminya, atau jangan-jangan kebutuhan gengsi itu memang menjadi porsi paling utama dalam bersosialisasi? Wallahualam


Gengsi sangat berkaitan erat dengan harga diri, kehormatan, dan prestige. Kebanyakan orang sibuk melindungi harga diri hanya karena tidak ingin di anggap hina dan rendah. Demi gengsi, apa saja dilakukan demi mengikuti gaya hidup yang maksimal meski pendapatan pas-pasan. Beli HP tercanggih karena malu dilihat orang masih memakai HP jadul / monokrom. Gonta-ganti baju setiap kali menghadiri acara seremonial semata biar dikatakan orang hebat. Bahkan, untuk membeli rumah-pun harus memilih tempat yang berkelas agar naik pula harga dirinya. Dan kebutuhan gengsi-pun  makin menggila ketika seseorang sudah mendapat jabatan, lalu marah dan tersinggung bila tidak dilayani, dan ingin selalu dihormati, diperlakukan istimewa.

Darimana kita belajar Gengsi?
Orang pertama mengajarkan kita agar  bertingkah tidak memalukan adalah orang tua kita sendiri. Seorang ibu akan berkata pada anaknya "Nak, pakai baju yang bagus, rambutnya di sisir yang rapi, malu dilihat orang". Kata "malu" itu sendiri sudah mengajarkan anak hidup gengsi. Orang tua rela membelikan pakaian bermerk untuk anaknya yang masih balita, (yang belum tahu "apa itu gengsi") sekali lagi demi membela gengsi. Terkadang orang tua juga membatasi pergaulan anak-anaknya, dan akan malu bila teman anaknya dari orang miskin.

Kebutuhan hidup gengsi ini juga dipengaruhi oleh lingkungan. Masyarakat seringkali memandang seseorang dari kulit luar, dan kebutuhan tergoda sifat pamer lebih banyak mendominasi. Budaya feodal yang menciptakan kelas sosial, membuat masyarakat mengukur kesuksesan seseorang dari banyaknya materi yang dimiliki seseorang. Dengan cara pamer sana sini, seakan membantu mereka mendapat predikat plus-plus di mata orang lain. Tidak kalah menariknya, jejaring sosial menyediaka tempat buat pamer, mulai dari foto pribadi ( sampai foto kawin pun di upload), lagi berada di suatu tempat, makan di restoran mewah, kadang foto lagi sholat, tarawehan menjadi topik " apa yang hendak aku pamerkan lagi " 

Pengaruh Negatif Gengsi
Tanpa kita sadari, hidup kita sering mengikuti pandangan " apa kata orang", kita sering ingin menang dalam segala hal, hanya karena ingin merasa lebih baik daripada orang lain. Masih sebatas kewajaran bila kebutuhan ingin hidup lebih baik itu tanpa berlebih-lebihan, dan yang salah justru kebanyakan gengsi akhirnya menjadikan seseorang bersifat ujub, takjub dengan diri sendiri, seakan lebih sempurna dari orang lain. Pengaruh negatif lain sikap gengsi-gengsian ini menjadikan orang makin materialis, kurang peka terhadap lingkungan sekitar, egois, sombong, bukan tidak mungkin di kejar-kejar hutang, dan kurangnya rasa syukur atas semua yang dimilki.

Mari kita intropeksi diri, apa untungnya mengejar gengsi bila tidak bisa menjadi diri sendiri. Apakah dengan pamer kekayaan, diri kita akan kaya juga di mata Allah. Kebutuhan haus di hormati orang lain tidak akan membuat kita berharga dalam pandangan Allah SWT. Hidup dengan mempertahankan gengsi akan membebani diri sendiri. Ya, Gengsi itu bikin hidup smakin rumit. Alangkah lebih bijaknya lagi bila sikap gengsi ini di arahkan pada kegiatan positif, seperti gengsi bila mendapat nilai ujian kecil, gengsi setelah berumah tangga masih ditopang orang tua, gengsi bila seorang gadis harus mengatakan " I love You" lebih dulu pada laki-laki pujaannya, dan lain sebagainya. Mari jadikan hidup ini lebih banyak syukurnya daripada mengejar gengsi yang tidak akan habis bila dikejar. Dalam sebuah hadist di sebutkan "Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."(A1 An'am: 141). Hanya satu yang bisa mengalah kan sifat gengsi yaitu sifat syukur, dan untuk mengalahkan sifat ujuf hanyalah tawadhu.

#Nasehat buat diri sendiri, semoga berkenan buat anda semua#

Monday, 23 February 2015

Jenis - jenis Kelainan Haid

Hasil gambar untuk menstruasiBicara masalah kesehatan wanita selalu tidak ada habisnya, terutama masalah menstruasi yang tidak teratur. Ada wanita yang mengalami menstruasi 2 minggu sekali, ada pula yang haid 2 bulan sekali, ada juga keluar darah haid hanya sedikit berupa flek atau bintik hitam. 


Jangan pernah menganggap jika haid tidak teratur berarti tidak ada masalah. Itu merupakan pertanda awal dari penyakit kronis, mulai dari kanker, jantung dan bahkan dapat mengakibatkan mandul. Setiap peremupuan mempunyai siklus menstruasi yang berbeda-beda dan relatif. Namun, normalnya menstruasi teratur setiap bulannya.

Menurut American Society for Reproductive Medicine, standar siklus menstruasi yang normal adalah 22-40 hari, dimana menstruasi pertama dihitung sejak pertama kali darah keluar dari vagina. Namun perbedaan -/+ 5 hari dari siklus haid, masih dianggap normal. Tapi jika perempuan sudah tidak mendapatkan haid teratur tiap bulan, maka sebaiknya dilakukan penanganan

Kelainan haid adalah masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit, terlambatnya atau hilangnya siklus menstruasi tertentu.

Kelainan haid biasanya terjadi karena ketidak seimbangan hormon-hormon yang mengatur haid, namun dapat juga disebabkan oleh kondisi medis lainnya.  Banyaknya perdarahan ditentukan oleh lebarnya pembukuh darah, banyaknya pembuluh darah yang terbuka, dan tekanan intravascular. 

Untuk masalah haid berupa flek di sebut dengan Hipomenorrhea

Hipomenorrhea adalah dimana jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc), kadang-kadang hanya berupa spotting atau bintik atau flek. Hal ini dapat disebabkan oleh stenosis pada himen, servik atau uterus. Hal ini juga dapat terjadi pada hipoplasia uteri dimana jaringan endometrium sedikit. Penyebab Hipomenorea  karena kekurangan hormon estrogen atau progesteron, dan Hipomenorea tidak mengganggu fertilitas (kesuburan)

Polimenorrhea
Polimenorrhea adalah gangguan menstruasi yang berbahaya. Terlalu sering haid, misalnya 2 minggu sekali, dimana siklus kurang dari 21 hari dan menurut literatur lain siklus lebih pendek dari 25 hari karena dapat menyebabkan anemia.Akibat siklus haid yang pendek, tentu volume darah yang dikeluarkan juga akan jauh lebih banyak dari haid dengan siklus normal.

Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek atau kedua stadium memendek. Yang paling sering dijumpai adalah pemendekan stadium proliferasi. Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan stadium sekresi juga dan hal ini menyebabkan infertilitas.  Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium sekresi karena korpus luteum lekas mati. Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat klimakterium, pubertas atau penyakit kronik seperti TBC6.

Oligomenorrhea
Oligomenorrhea adalah menstruasi atau biasa disebut haid yang tidak dapat diprediksi datangnya. Oligomenorrhea tidak berbahaya, namun perempuan dapat memiliki potensi sulit hamil, karena tidak terjadi ovulasi. Oligomenorrhea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih.

Oligomenorrhea sering terdapat pada wanita astenis. Dapat juga terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadara pada wanita normal. Oligomenorrhea dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas1.

Oligomenorrhea yang menetap dapat terjadi akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau pengaruh penyakit.

Menorrhagia
Menorrhagia adalah menstruasi yang tidak normal, yaitu perdarahan berat atau berkepanjangan. Meskipun perdarahan menstruasi berat merupakan masalah umum di kalangan wanita premenopause, kebanyakan wanita tidak mengalami kehilangan darah yang cukup berat sehingga didefinisikan sebagai menoragia.

Dengan menorrhagia, setiap periode menstruasi dapat menyebabkan kehilangan darah yang cukup banyak dan kram. Sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika memiliki perdarahan menstruasi begitu berat sehingga takut haid, berkonsultasilah dengan dokter.

Penyebab
Penyebab umum dapat termasuk:
1. Ketidakseimbangan hormonal
2. Disfungsi dari ovarium
3. Uterine fibroid
4. Polip
5. Adenomiosis
6. Intrauterine device (IUD)
7. Komplikasi kehamilan
8. Kanker
9. Keturunan gangguan perdarahan
10. Obat-obatan
11. Kondisi medis lainnya. Sejumlah kondisi medis lainnya, termasuk penyakit radang panggul (PID), masalah tiroid, endometriosis, dan hati atau penyakit ginjal, mungkin terkait dengan menorrhagia.   Untuk mengetahui apa itu Menorrhagia, baca informasinya di sini Apa itu Menorrhagia?
#berbagai sumber